Religi 

Inggrid Kansil Muallaf Yang Selalu Rindu Majelis Taklim

Cibinong, Detak Jabar – Calon wakil bupati Bogor, Inggrid Kansil menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat yang hadir dalam deklarasi calon bupati dan wakil bupati Bogor 2018-2023 di Cibinong Bogor. Massa yang memenuhi halaman kantor Partai Golkar tak berhenti-hentinya menyaksikan Inggrid Kansil yang terlihat haru saat seluruh peserta melantunkan sholawat Badar. Sesekali Inggrid Kansil terlihat menyeka pipinya. Bibir Inggrid juga terlihat ikut melantunkan lagu kemenangan tersebut. Memang, sholawat Badar jika dilantunkan bersama-sama, mampu menggetarkan hati kita. Ada heroisme dan kebanggaan  di situ.

Mengapa Inggrid terlihat terharu? Ternyata Inggrid Kansil pernah punya pengalaman menarik dengan kegiatan majelis taklim. Sebelumnya ia ragu untuk sekadar datang dan mengikuti kajian agama. Tetapi begitu dicoba, ia justru ketagihan dengan majelis taklim.  Berada di tengah-tengah umat muslim merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Inggrid.

Menurut Inggrid, keterlibatannya dalam dunia dakwah Islami tersebut karena terdorong oleh undangan seorang teman lamanya. “Saya bertemu teman lama saya yang saat itu sudah berhijab. Saya kaget dan merasa iri dengan kecantikannya berhijab. Setelah pertemuan itu, teman saya ngasih undangan pengajian majelis taklim tiap hari Jumat,” ujar wanita kelahiran Cianjur, 9 November 1976.

Kegiatan taklim itu ternyata menginspirasi Inggrid untuk membentuk majelis pengajian sendiri. Impian itu pun ia wujudkan dengan nama Majelis Taklim Al Fatimah. “Di taklim ini selain soal agama juga ada beberapa aspek penting yang saya tingkatkan,” tutur Inggrid Kansil.

Inggrid Kansil lahir di Cianjur , 09 November 1976 yang memiliki nama lengkap Inggrid Maria Palupi Kansil dari pasangan Setyabuddy Kansil (Manado) dan Inne Ruchaeni Natamihardja (Sunda). Ia merupakan anak sulung dari empat bersaudara.

Inggrid memulai karier sebagai bintang iklan. Bahkan saking banyaknya iklan yang dibintangi, Inggrid sempat dijuluki Ratu Iklan. Dari iklan, ia kemudian beranjak ke sinetron. Beberapa sinetron yang pernah dibintanginya antara lain Kapan Kita Pacaran Lagi (RCTI 2005), Maha Kasih (RCTI 2006), Taqwa (RCTI 2006), dan Penyihir Cinta (SCTV 2007).

Alumnus IISIP Jakarta ini juga menjadi presenter infotainment Kroscek di Trans TV sejak tahun 2004. Sebelumnya ia juga pernah memandu acara Gosip Pagi di RCTI (2003) dan reality show Lensa Kita TVRI.

Sebagai pemain sinetron, pembawa acara, dan bintang iklan, ia tentu dikenal publik secara luas. Ia kemudian mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014 dari Partai Demokrat untuk Dapil Jabar IV, mewakili daerah Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi. Namun, pada periode berikutnya 2014-2019 Inggrid harus menelan pil pahit karena di daerah pemilihan yang sama, suaranya berpindah ke Desy Ratnasari yang maju dari Partai Amanat Nasional.

Syarif Datang di Waktu Yang Tepat

Ada kekagetan yang dirasakan Inggrid Kansil saat akan diperkenalkan dengan calon suaminya. Usia Inggrid ketika itu masih 23 tahun. Ia agak terkejut dengan pernyataan sahabatnya, bernama Ita. Ita tiba-tiba mengajak untuk berkenalan seorang cowok. Inggrid yang baru saja putus dari pacarnya menyetujui permintaan kawannya itu. Selain kenal dengan Inggrid, Ita juga teman Syarief Hasan.

Mendengar alasan Ita, Ingrid pun menyetujui perkenalan dengan lelaki kelahiran Palopo, Sulawesi Selatan, 17 Juni 1949 tersebut. Bagi Inggrid saat itu, siapa pun yang merapat dengannya ia siap untuk menikah. Apalagi, usia Inggrid pun sudah matang.

Comblang Ita, lalu mengatur strategi. Mereka sepakat untuk bertemu di restoran terkenal di kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, pada suatu malam pada 1998. Sebelum pertemuan tersebut, Syarief sempat mengutarakan isi hatinya jika ia sedang mencari seorang istri.

“Saat itu Pak Syarief telah menduda selama 13 tahun. Jadi, dia memang serius untuk mencari seorang istri,” jelas wanita kelahiran Cianjur, Jawa Barat, 9 November 1976.

Sambil menyantap hidangan, Inggrid dan Syarief bicara ngalor-ngidul. Mereka saling nyambung, meski usia mereka sangat jauh. Pertemuan itu membawa kesan yang menyenangkan, baik bagi Inggrid maupun Syarief.

“Ternyata, nggak bapak-bapak banget,” nilai Inggrid terhadap Syarif Hasan.

Sebelum pertemuan selesai, Inggrid pamit sholat kepada teman barunya itu. Dengan senang hati, Syarief mempersilakan Inggrid. Sebagai perempuan yang baru setahun menjadi muallaf, Ingrid memang tekun beribadah. Itu juga yang menjadi salah satu penilaian Syarief.

Pertemuan demi pertemuan pun terus berlanjut. Tak hanya berdua, Syarief pun tak segan-segan memperkenalkan Inggrid kepada teman-temannya. Mereka pun memberi restu atas hubungan Syarief dan Inggrid. Di mata Inggrid, Syarief merupakan sosok lelaki yang memiliki kematangan pola pikir.

Akhirnya Inggrid menikah dengan Syarief Hasan, MM, MBA, duda 3 anak yang lebih tua 27 tahun darinya. Syarief adalah anggota DPR yang menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, wakil Sekjen Partai Demokrat dan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Pernikahan mereka berlangsung di Masjid Agung Cianjur, Jawa Barat, 26 Juni 1999. Saat akad nikah Syarief memberikan Inggrid seperangkat alat salat sebagai emas kawin. Hari-hari dilalui mereka dengan indah dan telah dikaruniai seorang anak. Namun, bayi yang mereka idam-idamkan itu meninggal dunia setelah dua jam persalinan. Inggrid masih ingat betul peristiwa tersebut terjadi pada 8 Juli 2000. Padahal, mereka sudah menyiapkan perlengkapan untuk bayinya, termasuk nama buah hatinya, Zenobia. Bagi Inggrid, kematian anaknya itu menjadi beban terberat dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Sebagai suami, Syarief berusaha menenangkan istrinya itu. Ia kemudian mengajak Ingrid berlibur. Upaya Syarief pun membuahkan hasil.

“Saya sangat terpukul. Ini ujian berat sekali bagi saya. Saya sampai tiga bulan menangis terus. Saya kemudian diajak liburan dengan Pak Syarief,” kata Ingrid.

Tuhan ternyata mengganti Zenobia dengan yang lain. Selang beberapa bulan, Inggrid kembali hamil. Mereka menyambut dengan penuh suka cita. Setelah sembilan bulan menanti, Inggrid pun melahirkan. Mereka menyematkan nama yang indah untuk bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu, Ziankha Amorrette Fatimah Syarief.

Memiliki suami yang aktif dengan jarak perbedaan usia yang sangat jauh, Inggrid harus beradaptasi dan melakukan penyesuaian. Ia juga terus meningkatkan berbagai hal, termasuk dari segi ilmu pengetahuan.

“Jadi istri, bukan semata-mata wajib melayani suami, tapi juga harus bisa berdiskusi dengan baik. Hal itu agar suami tak mencari teman diskusi di luar,” kata Inggrid.

Berbeda dengan yang lain, Inggrid punya cara tersendiri untuk meredam pasang surut dalam rumah tangganya.  Salah satunya dengan cara menyimpan dengan rapi semua perlengkapan saat akad nikah di rumahnya yang asri di Sentul, Bogor.

“Semuanya masih saya simpan di sebuah ruangan, kayak museum. Mulai dari mukena, selop, kartu undangan pernikahan,  dan yang lainnya.  Jika terjadi pasang surut dalam hubungan kami, ya, kami tinggal melihat benda-benda itu agar bisa mengingat kembali saat menikah,” ungkap Inggrid.

Kini, telah 19 tahun Ingrid Kansil dan Syarief Hasan mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh liku. Namun, segala persoalan mampu mereka atasi. Tugas baru, kini telah berada di pundak Inggrid Kansil, memenangkan Pilkada Bogor dan kelak jika menang membuat Kabupaten Bogor lebih sejahtera.  Inilah saatnya membahagiakan rakyat. (diolah dari berbagai sumber)

749 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment