Editorial Opini 

Masih Doyan Bupati Perempuan?

Pagi ini saya menyaksikan seorang pemuda sedang bersusah payah mengambil motor yang roboh tergenang air di jalan Pabuaran-Bojonggede, Kabupaten Bogor. Tampaknya ia jatuh tergelincir di jalanan yang rusak – mungkin oleh batu di dalam genangan air yang tak kelihatan karena keruh dan kotor. Ia kelihatan kesal dan marah-marah. Ia tidak tahu harus menuntut siapa. Tetapi saat motornya dipinggirkan, ia meluapkan kekesalannya kepada orang-orang yang ada di pinggir jalan.  “Pemerintah tuli dan budeg, jalanan rusak bertahun-tahun kagak dibetulin,” umpatnya. “Lihat Pak, dari pertigaan Bambu Kuning sampai Pasar Citayam, jalan rusak semua,” paparnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga melihat seorang siswi menangis di pinggir jalan. Baju sekolahnya kotor oleh cipratan air. Ia berusaha membersihkan dengan air mineral yang ia bawa. Lokasinya di pertigaan Bambu Kuning,  Bojonggede. Inilah pertigaan paling unik di muka bumi, sebab di situ angkot bisa berhenti di mana pun mau, di situ pemotor bisa memotong pengendara lain dengan ugal ugalan, di situ sampah berserakan di tengah jalan, di situ air meluap saat turun hujan, di situ tak ada polisi yang jaga. Meski sudah ada lampu traffic light tetapi hukum rimba berlaku, siapa arogan dialah pemenangnya!

Siswi yang menangis tadi adalah siswa korban beringasnya pengguna motor yang tetap ngebut di jalan yang rusak dan penuh kubangan air kotor sepanjang Pabuaran-Bojonggede. Kotor oleh lumpur, tahi tikus, tahi kucing, dan mungkin – maaf – tahi manusia. Jijik sekali.

Saya tidak akan membahas tahi. Tetapi prihatin dengan kondisi kali dan jalanan yang selalu menjadi biang keladi kesemrawutan jalan. Padahal, jarak lokasi ini  cuma 1,5 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Bogor di Cibinong.  Kabupaten Bogor yang katanya Tegar Beriman, Bogor yang katanya banyak meraih bergudang gudang prestasi, tapi tak berdaya mengatasi carut-marut di Pertigaan Bambu Kuning.

Kondisi seperti ini terjadi sejak sebelum Rahmat Yasin masuk penjara sampai Rahmat Yasin mau keluar penjara. Artinya, bukan baru kemarin sore, tetapi sudah beberapa kali APBD. Padahal, kalau mau sedikit turun ke lapangan, banjir di tempat itu disebabkan oleh banyaknya sampah dan material yang berserakan di bantaran kali dan jembatan yang dibangun terlalu rendah, sehingga jika ada hujan, air tidak bisa mengalir. Akibatnya meluap ke jalanan tidak hanya di sekitar Bambu Kuning, tetapi meluap sampai Kampung Sawah Poncol hingga ke komplek  Perumahan Vila Asia. Penyebab lainnya adalah sebagian masyarakat kita yang masih buang sampah ke kali, tanpa merasa berdosa.

Tidak hanya pemukiman yang jadi korban, tetapi ada masjid, sekolah, bahkan kantor Pusat Kesehatan Masyarakat.  Puskesmas Bojonggede berada di lingkungan yang betul-betul tidak sehat. Jika banjir tiba, aneka sampah berserakan di halaman Puskesmas juga halaman masjid dan halaman sekolah. Ada popok bayi, popok nenek nenek, pembalut, bahkan kadang ada kondom juga.

Inikah potret slogan Tegar Beriman? Benarkah Pemda tak punya dana buat membongkar jembatan jembatan pembuat kesengsaraan itu?

Bergeser ke arah kantor Pemda. Ada pemandangan yang agak kontradiktif. Di situ ada pemugaran pagar kantor PDAM yang sebetulnya masih kokoh dan perkasa. Ironis sekali, jalanan rusak bertahun-tahun dibiarkan, pagar kantor PDAM yang masih kuat malah dipugar.

Pabuaran, Bambu Kuning, dan pagar kantor PDAM adalah potret ketidakadilan pembangunan, tidak ada prioritas, dan tidak peka persoalan. Jalanan Pabuaran seharusnya tidak diletalantarkan, pertigaan Bambu Kuning seharusnya langung dibereskan, sedangkan kantor pagar PDAM belum ada urgensinya.

Contoh di atas hanya sebagian kecil persoalan yang ada di Kabupaten Bogor. Di daerah lain pasti banyak persoalan serupa, bahkan lebih parah. Ini semua terjadi karena kurangnya ketegasan, tidak adanya keberpihakaan kepada yang membutuhkan, kurangnya keberanian mengambil kebijakan, dan lemahnya kepemimpinan yang kebetulan seorang perempuan.

Mungkin perempuan tidak bisa disalahkan, tetapi fakta menunjukkan bahwa sejak Bogor dipimpin oleh Bupati perempuan, banyak sekali persoalan yang tak terselesaikan. Memang perempuan hanya dilarang menjadi imam sholat. Tetapi sebaiknya memang perempuan tidak menjadi imam dalam pemerintahan. Apa yang dilihat, itulah yang masyarakat yakini bahwa sejak Kabupaten Bogor dipimpin perempuan yang terjadi justru, sedikit perbaikan, sedikit kemajuan, tak ada gebrakan, dan banyak sekali kemunduran. Kodrat perempuan adalah menebar kasih sayang untuk sang keturunan.

Jadi, masih doyan dipimpin perempuan?

Oleh Sri Widodo Soetardjowijono (Pemimpin Redaksi Detak Jabar)

1,211 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment