Hukum Politik 

Telunjuk Rachmat Yasin di Sukamiskin

Puluhan bus besar parkir di Lapas Sukamiskin Bandung, Kamis, 28 Desember 2017. Mereka adalah rombongan kyai dan ulama dari Bogor yang bersilaturahmi ke hotel Prodeo, mantan Bupati Bogor, Rachmat Yasin yang telah dihuninya sejak 2014. Yasin memang senang bersilarutahmi mengumpulkan sanak famili dan koleganya yang masih setia. Sudah pasti Yasin terhibur didatangi para kekasihnya yang selalu memberi support serta doa. Demikian juga kaum loyalis yang tak lekang oleh waktu, mereka siap datang kapan saja, manakala sang mantan memanggilnya di saung kesukaannya.

Hari itu menjadi hari yang istimewa, sebab ada pesan-pesan khusus dari sang mantan untuk para ulama. Pesan dan harapan kebaikan tentu saja, utamanya berkaitan dengan hajatan besar Kabupaten Bogor menghadapi Pilkada, di mana adik sang mantan menjadi salah satu kandidat yang layak diperhitungkan. Ya, dialah Ade Munawaroh, adik dari Rachmat Yasin yang maju mencalonkan diri menjadi Calon Bupati Bogor 2018-2023. Munawaroh menggandeng Iwan Setiawan untuk mendampingi dalam Pilkada yang akan digelar pada 27 Juni 2018.

Di hadapan para ulama dan bahkan Ketua MUI Kabupaten Bogor, Rachmat Yasin begitu heroik memberi wejangan dan semangat. “Kita semua tahu, adik saya punya kelemahan karena perempuan, tetapi jangan lihat adik saya, lihatlah saya. Hujjahnya ada di saya,” kata Rachmat Yasin seperti disampaikan salah satu ulama yang hadir saat itu. Rachmat Yasin terlihat berapi-api, mirip Bung Karno. Sedangkan para ulama dan kyai yang ada di depannya  khidmat sekali mendengarkan “khotbah” Yasin, hari itu.

Trah penguasa tampaknya telah menjadi garis tangan keluarga Yasin. Di samping Munawaroh yang maju sebagai calon Bupati Bogor, sang adik Zaenal Muttaqin juga tengah berjuang menjadi Wakil Walikota Bogor mendampingi Ahmad Ru’yat. Kegotongroyongan dan militansi keluarga Yasin merengkuh kekuasaan sungguh menakjubkan.

Berebut menjadi penguasa memang mahal harganya. Munawaroh misalnya, ia harus memoles namanya menjadi singkat, enak didengar dan diucapkan. Ade Munawaroh berganti nama menjadi Ade Yasin. Simpel sekali. Untuk hajat ini, ia harus mengganti nama di KTP dan harus membayar mahal ke pengadilan.

Demikian juga, saat membujuk Iwan Setiawan dari Partai Gerindra untuk mendampingi dirinya  juga tidak mudah, apalagi murah. Keluarga Yasin tak terlalu risau dengan kesulitan yang dihadapi, apalagi menyangkut pendanaan. Semua bisa diselesaikan.

Tapi bukan soal dana yang menjadi daya tarik perhatian publik. Yang menakjubkan adalah beredarnya foto rombongan kyai dan ulama bersama Ade Yasin saat berkunjung ke Lapas Sukamiskin Bangung beberapa waktu lalu. Mengapa takjub? Sebab, Lapas tidak diizinkan dipakai untuk selfie-selfie siapapun yang berkunjung, apalagi untuk lahan sosialisasi atau kampanye calon Pilkada. Rombongan Ade Yasin tampak jelas bahwa mereka sedang berkampanye, sebab ada spanduk bergambar Munawaroh, eh salah, Ade Yasin.

Jika mengacu pada pernyataan Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Wilayah Jawa Barat, Susy Susilawati beberapa waktu lalu, berkampanye di Lapas jelas melanggar aturan. “Tidak ada kampanye di dalam Lapas. Entah itu bagi-bagi kaos, sembako atau stiker. Kecuali KPU yang memberikan sosialisasi untuk penghuni lapas,” kata Susy.

Apa yang dipertontonkan Ade Yasin di saung Rachmat Yasin tidak hanya soal pelanggaran Pemilu, tetapi pelanggaran tata tertib di Lapas Sukamiskin. Dari foto itu menunjukkan bahwa mereka bisa dengan leluasa mengambil gambar apakah lewat kamera profesional atau kamera hand phone. Mengapa hal seperti ini lolos dari pengamatan petugas Lapas.

Belum lama ini ada juga sebuah postingan foto di Facebook yang menunjukkan mantan Bupati Bogor Rachmat Yasin dikunjungi oleh beberapa orang yang merupakan kepala SKPD.

Foto yang diunggah akun Lidya ini menunjukkan Rachmat Yasin menggunakan kemeja biru dan tampak seperti mengantongi sebuah ponsel.

Selain foto, akun tersebut menyertakan sebuah status. “Tdk mencerminkan di dalam tahanan … para Kadis meninggalkan kewajiban kepada rakyat Kabupaten Bogor, digaji oleh uang rakyat hari kerja belain bolos hanya untuk berkumpul di Lapas Sukamiskin dengan koruptor … ”

Foto dan status tersebut dilengkapi tagar #savekabupatenbogor #stopdinastikorup #kabupatenbogormilikrakyat.

Begitulah karakter Rachmat Yasin yang gemar mengumpulkan orang-orang terdekatnya. Ada tokoh masyarakat, aparatur pemerintahan, tokoh politik, sejumlah bakal calon kepala daerah, tokoh agama, Ketua RT, RW, BPD, Linmas, Kader Posyandu dan lainnya.

Ia tampaknya tipikal petarung. Tak peduli siapa ia sekarang. Ia lupa bahwa saat ini menjadi terpidana suap senilai Rp4,5 miliar, guna memuluskan rekomendasi surat tukar menukar kawasan hutan atas nama PT Bukit Jonggol Asri seluar 2.754 hektar.

Ia merasa Bogor adalah didirnya sebagaimana slogan sang adik “Bogor Nu Urang”. Yasin merasa wajib turun tangan memainkan perannya dalam Pilkada Kabuapten Bogor 2018 untuk menutupi kekurangan adiknya. Ia mainkan jari telunjuknya untuk mengatur strategi, melukis ambisi, dan menorehkan mimpi.

Tetapi kegemaran itu kadangkala menimbulkan pertanyaan. Mengapa Rachmat Yasin bebas berkampanye di dalam Lapas, mengapa Rachmat Yasin bebas berfoto di dalam Lapas, mengapa pihak Lapas membiarkan Rachmat Yasin melakukan hal yang tidak patut dan tidak pantas dilakukan seorang napi koruptor?

Menteri Hukum dan HAM harus menghentikan pengistimewaan napi koruptor. Segera! (Editorial Detak Jabar)

12,797 total views, 4 views today

Related posts

Leave a Comment