Editorial Opini 

Rachmat Yasin dan Petuah Hitler

“Kebenaran adalah kebohongan yang diulang seribu kali” (Adolf  Hitler)

Masih lekat dalam ingatan kita saat bekas Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar perang mulut dengan bekas Bupati Bogor, Rachmat Yasin pada Lebaran tahun 2014. Mereka ribut di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1A, Sukamiskin, Bandung. Keributan dipicu oleh protes Akil terhadap Yasin, lantaran jumlah pembesuk untuk Yasin jauh lebih banyak ketimbang pembesuk Akil. Keributan itu juga melibatkan petugas penjaga di dalam Lapas. Suasana tegang, gaduh, dan nyaris tak terkendali. Untung pihak Lapas segera tanggap, keributan dihentikan,  dan akhirnya kedua koruptor itu dijatuhi sanksi tidak boleh dijenguk selama satu bulan.

Setelah itu Rachmat Yasin juga masuk dalam daftar penikmat kebebasan penjara. Ia merupakan salah satu dari 23 napi koruptor yang suka pelesiran ke luar masuk Lapas sebagaimana investigas Majalah Tempo awal 2017. Yasin begitu lihai memanfaatkan ketidaksiplinan para sipir. Sebagai sanksinya, Yasin akan dipindah ke Lapas Gunung Sindur, tapi entah mengapa, sampai saat ini tak ada kabar. Ia tetap nyaman di Sukamiskin.

Di musim Pilkada 2018 ini Rachmat Yasin tak bisa diam. Ia tampaknya tak bisa mengurangi ganasnya libido kekuasaan. Ia turun gelanggang secara total. Meski fisiknya berada di dalam Lapas, tetapi ide dan pemikirannya liar ke seantero Bogor. Maklum, kedua adiknya ikut bertarung memperebutkan penguasa Bogor, baik kota maupun kabupaten. Dinasti politik Yasin sedang berproses di Bogor.

Para tokoh masyarakat, tokoh agama, aparatur pemerintahan, tokoh politik, sejumlah bakal calon kepala daerah, kader PAUD, kader Posyandu, ketua RT RW, dan banyak sekali elemen masyarakat, “dihipnotis” untuk tak ragu berbondong-bondong datang ke Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin.

Harus diakui inilah pengaruh Rachmat Yasin yang memang masih sangat kuat, utamanya di kalangan loyalis mata kuda. Pengkultusan untuk Rachmat Yasin nyaris sempurna. Ia mampu menanamkan dirinya sebagai sosok politikus berpengaruh, walaupun secara fisik masih berada dalam Lapas, namun sabdanya diamini oleh semua pengikutnya. Para loyalis lupa, bahwa Rachmat Yasin adalah napi koruptor yang diganjar selama lima tahun enam bulan penjara terkait kasus suap tukar-menukar kawasan hutan PT Bukit Jonggol Asri sebesar Rp 4,5 miliar.

Seakan tak peduli dengan itu, untuk kenyamanan pengunjung, Rachmat Yasin menyulap sel bagaikan kamar kos dan dilengkapi berbagai furnitur, seperti lemari, rak buku, dan meja.  Yasin membangun saung bambu yang nyaman di depan taman sel. Di saung inilah Rachmat Yasin mengendalikan politik bumi tegar beriman.

Yasin juga mampu menjaga “stabilitas” pimpinan Kabupaten dengan APBD Rp 3,6 triliun ini. Kekosongan jabatan wakil bupati Bogor sejak Rachmat Yasin ini dijebloskan ke penjara, masih terus melompong sampai hari ini. Ormas Aliansi Masyarakat Penyelamat Bogor (AMPB) bahkan sempat meradang. Mereka mendesak eksekutif dan legislatif untuk segera mengisi kekosongan Wabub agar roda pemerintahan berjalan efektif, toh nyatanya tak mampu mengubah keadaan. Bogor dipimpin oleh satu orang Bupati tanpa wakil. Perempuan pula.

Kita semua tahu, masuk Lapas tidak semudah masuk pasar. Mereka harus meninggalkan KTP, meninggalkan semua alat komunikasi, dan mencatatkan diri di buku tamu. Alat-alat itu dimasukkan ke dalam loker yang sudah disediakan petugas dan dilarang dibawa masuk ke area terbatas sel.

Pihak Lapas sudah menyiapkan area khusus untuk penjenguk yang tak lepas dari sorotan CCTV. Gerak-gerik penghuni Lapas maupun penjengkuk tak akan luput dari pengawasan petugas sipir dan CCTV.

Tapi nyatanya, Rachmat Yasin bisa berbuat apa saja, mengumpulkan orang, memilih orang, dan juga menolak orang untuk menemuinya. Ia tampak lebih merdeka dari orang merdeka itu sendiri. Yasin berhasil mengubah penjara yang menakutkan menjadi penjara yang menggembirakan. Selfie, foto bareng, dan pidato, bukan sesuatu yang tak etis bagi Rachmat Yasin. Bukankah ini semua pelanggaran?

Empat tahun telah berlalu. Kegaduhan itu tetap ada sampai saat ini. Penjengkuk Rachmat Yasin tak pernah sepi. Saung-saung bambu yang tampak asri terlihat semakin mengkilap karena seringnya diduduki tamu. Mungkin tidak hanya Akil yang terganggu, napi lain juga merasa risih dan bosan menegur Yasin. Saking sering dan masifnya tamu Yasin, yang terjadi adalah pelanggaran yang terbiasa, bahkan jadi budaya. Pelanggaran yang berulang-ulang, adalah sebuah kebenaran. Tampaknya Rachmat Yasin sedang mengamalkan dengan sangat baik petuah Hilter secara khusuk dan istiqomah.

Benarkah itu? Hanya Tuhan dan Yasin yang tahu. (Editorial Detak Jabar)

926 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment