Editorial Opini 

Menjual Mimpi, Mewarisi Ironi

Calon Bupati Bogor Ade Yasin membius masyarakat dengan “keberhasilan” Rachmat Yasin tempo dulu. Efektifkah?

Siang itu, mereka meneriakkan yel yel dukungan untuk Ade Yasin – Iwan Setiawan menjadi bupati wakil bupati 2018-2023. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semua memberikan semangat kepada calon pujaannya. Bergairah sekali. Mereka larut dalam lagu dangdut yang liriknya sudah diubah dengan lirik sang calon.  Ade Yasin siapa yang punya, Ade Yasin siapa yang punya…. dan seterusnya.

Episode berikutnya adalah orasi Ade Yasin, sang calon Bupati. Ia mengajak masyarakat agar meneruskan perjuangan sang kakak, Rachmat Yasin dalam membangun Kabupaten Bogor.  Katanya, banyak PR yang belum diselesaikannya.

Begitulah ritme standar yang dilakukan Ade Yasin dalam menemui konstituennya, selalu membawa nama Rachmat Yasin. Ia yakin kakaknya laku “dijual” dan masih punya kekuatan. Dan kenyataannya memang demikian, ke mana telunjuk Yasin digerakkan, ke situlah para loyalis berada.

Padahal, Rachmat Yasin saat ini sedang meringkuk di tahanan Sukamiskin karena korupsi. Ia diganjar hukuman  5,5 tahun. Citra koruptor langsung melekat padanya. Entah apa yang membuat ia begitu yakin bahwa masyarakat Bogor akan memilih Ade Yasin yang notabene merupakan trah keluarga koruptor.

Masyarakat bertanya-tanya apa sebetulnya yang ingin dilanjutkan oleh Ade Yasin dari program Rachmat Yasin yang konon tertunda. Kita lihat sejak Rachmat Yasin memimpin Bogor sampai masuk penjara dan hingga hari ini, tidak ada sesuatu yang bisa dibanggakan.

Mari kita urai satu per satu. Sampai saat ini gizi buruk di Bumi Tegar Beriman masih merajalela. Data tahun 2016 sebanyak 93 bayi dari 570.692 bayi di Kabupaten Bogor bayi-bayi kering kerontang, tinggal kulit dan tulang, kurus tak bertenaga.  Bahkan, tahun 2017 gizi buruk justru terdapat ring 1 Kabupaten Bogor, yakni di Sukahati, Citeureup, dan Bojonggede.

Belum lagi kenakalan remaja yang terus meningkat. Tawuran pelajar, narkoba, kecanduan game online, minuman keras, hingga pornografi masih menjadi hantu yang menakutkan bagi masyarakat Kabupaten Bogor. Sekarang ditambah lagi dengan maraknya LGBT.

Bagaimana dengan anak jalanan, pengemis, dan pengamen? Hampir di setiap perempatan jalan, kita menyaksikan aktivitas mereka yang beroperasi hampir 24 jam. Keberadaannya tidak hanya mengganggu ketertiban tetapi jelas telah melanggar Perda Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)  Kabupaten Bogor.

Berbicara infrastruktur lebih parah lagi. Jangankan jalan desa di Rumpin atau Jasinga yang jauh dari pusat kota, Jalan Raya Tegar Beriman saja yang menjadi wajah ibukota, sering memakan korban lantaran banyak lubang menganga.

Jembatan gantung juga masih banyak ditemukan di Kabupaten Bogor. Jembatan semipermanen yang terbuat dari bambu ini dibangun oleh swadaya masyarakat karena tak tersentuh anggaran pembangunan. Bahkan, tepat di tahun baru 2018, ada seorang warga tewas, dan 33 lainnya luka-luka akibat putusnya jembatan gantung  di lokasi penangkaran rusa Cariu di Desa Sirnarasa, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor.

Di sektor pertanian lebih miris lagi. Saat ini telah terjadi penyusutan terhadap lahan pertanian baik sawah maupun perkebunan.  Data Dinas Pertanian, Perkebunan dan Hortikultura mencatat bahwa lahan pertanian di Kabupaten Bogor seluas 45 ribu hektar menyusut sampai 7 ribu hektare, menjadi sekitar 37 ribu hektare, pada 2018.

Satu-satunya kebanggaan masyarakat Kabupaten Bogor adalah stadion Pakansari. Tetapi kondisi WC-nya saat ini kotor dan bau, taman tak terawat, rumput tumbuh liar di seputar stadion, dan jalan sekitarnya becek dan licin.

Berbicara Kabupaten Bogor adalah berbicara soal kemunduran infrastruktur. Maka, sangat bisa dimaklumi jika kemudian warga membentuk Citizen Law Suit (CLS) menggugat pemerintah Kabupaten Bogor karena pembangunan infrastruktur yang tidak diperhatikan.

Di Bogor kadang kita sering merasa minder jika membandingkan dengan kabupaten lain. Sebagai kabupaten dengan slogan Tergar Beriman, Bogor tidak memiliki Masjid Agung yang bisa menjadi ikon untuk dibanggakan. Sementara daerah lain sudah mampu membudayakan masyarakat sholat subuh berjamaah yang jumlahnya ratusan.

Di Masjid Jogokariyan Jogjakarta, misalnya, takmir masjid mampu menggerakan shalat subuh berjamaah. Tidak hanya itu, manajemen masjid ini membuka kesempatan infaq bagi siapapun yang berkenan. Di masjid inilah segala kegiatan pelayanan jamaah banyak dilakukan.  Ada 28 divisi yang bekerja. Di antaranya biro klinik, biro kaut, dan komite aksi untuk umat. Manajemen ini menginspirasi komunitas Muslim dari luar Jogjakarta untuk menimba ilmu dan pengalaman.

Sebagai warga Bogor, kita sering berkecil hati dan sedih melihat bangkrutnya warung-warung kecil karena terlibas roda kapitalisme.  Padahal di wilayah lain, kepala daerah mampu menekan kaum konglomerat untuk bekerja sama dengan pelaku usaha rakyat.

Masih di Jogjakarta, khususnya di Kabupaten Kulon Progo, ada Tomira. Sang Bupati mewajibkan Alfamart, Indomaret, dan jaringan minimarket lainnya untuk menjual produk UMKM rakyat Kulon Progo. Tidak hanya itu, papan nama Alfamarta harus disandingkan dengan label Tomira. Tomira adalah singkatan dari Toko Milik Rakyat.

Masih soal masjid, ada yang menarik dari Masjid Namira di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung, Lamongan, Jawa Timur.  Masjid Namira menyimpan potongan Kiswah asli, dari Masjidil Haram. Ya. Kain penutup Ka’bah itu benar-benar dibawa langsung dari Masjidil Haram.

Semenjak kehadirannya, selain sebagai tempat beribadah, masjid ini kemudian dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat wisata religi, yang tak pernah sepi pengunjung, untuk berfoto di depannya. Dan ujungnya pendapatan daerah meroket.

Masih banyak lagi wilayah lain yang punya prestasi yang bisa menjadi inspirasi bagi Bogor. Kabupaten Indramayu contohnya. Kabupaten ini  mendapatkan penghargaan Piala Adipura terbanyak hingga 9 kali, yakni tahun 2007, 2008, 2009, 2010, 2012, 2013, 2015, 2016, dan sekarang 2017.

Yang juga tak kalah hebat adalah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Ia berhasil menaikkan pendapatan per kapita masyarakat Banyuwangi mencapai 99 persen.

 

Apa yang sudah dilakukan Rachmat Yasin saat memimpin Bogor yang bisa dibanggakan di kancah nasional? Mengapa perlu menjual nama Rachmat Yasin dalam kampanye?

Bogor punya segudang potensi, punya banyak kelebihan, punya SDM yang sangat mumpuni. Bogor akan hebat jika dipegang oleh tangan-tangan kreatif dan punya visi jauh ke depan.

Publik harus sadar, tidak semestinya memilih calon kepala daerah berdasarkan pengalaman memimpin pemerintahan. Yang paling penting adalah komitmen dan kredibilitas. Pemimpin tidak harus pernah memegang jabatan. Pengalaman memimpin daerah tidak menjamin 100% keberhasilan atau integritas seorang bupati, atau wali kota. Ada yang sudah pernah dua kali menjadi bupati, tapi catatan buruknya banyak dan malah masuk penjara. Ironis sekali.

Jadi, masih mau jualan mimpi dan mewarisi ironi? Berhentilah membanggakan keberhasilan semu. (Redaksional Detak Jabar)

765 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment