Editorial 

Acep Purnama Dibayangi Basuki Tjahaja Purnama?

Pilkada DKI telah usai. Anies Baswedan, gubernur baru telah terpilih dengan terpentalnya Basuki Tjahaja Purnama dari kursi nomor satu Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Namun jejak goresan luka penistaan masih samar-samar terasa. Apalagi, kasusnya kini tengah ditangani MA.

Pilkada DKI sesungguhnya perang pengaruh antara pemilih Islam dan non-Islam didukung sebagian kecil umat Islam. Polarisasinya jelas, pemilih Anies-Sandi adalah mereka yang konsisten dengan keislamannya. Sementara pemilih Ahok-Djarot adalah mereka yang berkeyakinan bahwa agama tidak penting dalam Pilkada.

Spirit 212 adalah upaya bersama umat Islam untuk menyadarkan bahwa politik itu penting bagi masyarakat di era demokrasi saat ini. Tanpa kehadiran spirit 212, bisa dipastikan Ahoklah pemenangnya. Namun karena kesadaran kolektif muncul saat itu, maka Ahok terjungkal dalam putaran kedua Pilkada DKI. Publik Jakarta sadar betul petuah mantan Perdana Menteri Turki Necmettin Erbakan yang mengatakan,”Muslim yang tidak pedulikan politik akan dipimpin oleh politikus yang tidak pedulikan Islam.”

Ada kemiripan antara calon Bupati Kuningan Acep Purnama dan Basuki Tjahaja Purnama. Keduanya merupakan keturunan China, sama-sama memiliki nama belakang Purnama. Apakah satu marga atau bukan, entahlah. Yang jelas keduanya berhasrat untuk menjadi pemimpin di daerahnya. Sedangkan yang membedakan adalah Basuki tetap nasrani, sementara Acep telah menjadi muallaf.

Tanpa bermaksud mengutak-atik soal suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA). Tetapi setiap kali Pilkada dan Pemilu, SARA selalu menjadi bumbu penyedap yang sulit dibendung. Harus dimaklumi masyarakat Nusantara memang masyarakat yang relijius. Mereka butuh ketenangan dan kenyamanan. Sedikit saja keyakinan terusik, maka sebagai sesama muslim, mereka akan bergerak menjaga harga diri.

Mungkin saja Acep was was terhadap “Ahok effect” yang bakal berimbas ke Kuningan. Maklum muslim saat ini sedang dalam keadaan mudah sensitif. Luka Jakarta dirasakan oleh seluruh umat Islam se-Indonesia. Jika ada yang coba-coba “menyiram bensin”, maka bisa jadi kemarahan bakal terjadi. Apalagi, Acep Purnama dianggap bukan putra daerah Kuningan, tetapi merupakan keturunan Tionghoa. Ini stereotip yang sulit sirna. Jabatan bupati yang disandang saat ini pun bukan karena pemilihan, tetapi karena sebagai wakil ia meneruskan bupati Hj Utje Ch Hamid Suganda yang meningga dunia dalam tugas.

Namun Acep ternyata merasa yakin bahwa “efek Ahok” tidak akan terjadi di Kuningan. Karena situasinya berbeda dengan Jakarta.

Pun demikian, Acep harus memahami karakter masyarakat Jawa Barat, khususnya Kuningan yang egaliter dan terbuka terhadap budaya luar tetapi akan terusik jika hal prinsipnya diutak-atik. Belum lagi partai pengusung dirinya yang kini semakin kurang populer. Di samping para kadernya banyak terjerat kasus korupsi, partai ini juga dicitrakan memusuhi Islam. Rakyat Kuningan sangat paham dengan persoalan ini. Hanya saja, karakter masyarakat Kuningan yang tak mau ribet, mereka diam dalam keyakinan. Sesuai dengan karakter dan budaya yang relijius, masyakarak Kuningan sudah jelas dan mantap dengan pilihannya. Sosok maupun partai pengusungnya sudah bisa dibaca, mana loyang mana emas. Sekali lagi, rakyat Kuningan tak mau banyak bicara. Yang penting bagi mereka adalah kehidupan yang makmur, adil, dan senTOSA. (Editorial Detak Jabar)

5,412 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment