Profil 

Sisi Lain dr. Toto Taufikurohman Kosim, Bocah Bandel yang Jadi Dokter

Sebuah pohon yang tinggi menjulang, ia pasti ditopang oleh akar yang kuat dan tanah yang subur di sekelilingnya. Jika diibaratkan sebagai pohon yang rindang dan kokoh, maka keluarga adalah akar bagi seorang dr. Toto Taufikurohman Kosim, dan kota Kuningan ibarat tanah yang membentuk marwahnya, karena ia lahir dan tumbuh, berdiri dan mengenal kehidupan di kota yang dicintainya.

Lahir pada 22 Mei 1969, Toto tumbuh dalam keluarga besar. Ia putra ke lima dari 16 bersaudara dari pasangan H. Ucin Kosim Usman dan Hj. Zubaedah seorang pendiri Muslimat NU Kuningan. Toto kecil menghabiskan waktunya di kota kelahirannya, Kuningan yang sejuk. Selayaknya anak Kuningan, Toto kecil sangat bersahabat dengan alam dan orang-orang di pedesaan. Ini suatu pengalaman yang kelak memberinya bekal hidup yang begitu berharga dalam pergaulan dengan masyarakat dari segala lapisan. Dari sini pula Toto mendapatkan pelajaran, bagaimana rasa empati dikembangkan terhadap orang-orang yang hidup dalam kesederhanaan dan yang perjuangan hidupnya jauh lebih sulit dari dirinya.

Toto tumbuh menjadi anak yang lincah dan aktif. Ia memulai jenjang pendidikan Sekolah Dasar pada 1976 sampai lulus SMA di Kuningan. Walaupun dikenal sebagai anak yang tidak bisa diam dan cenderung nakal, Toto juga dikenal akan kecerdasannya. Walaupun nakal selayaknya anak laki-laki seusianya, Toto tidak pernah melewatkan bimbingan agama yang ditanamkan oleh kedua orangtuanya. Kelak, kombinasi kecerdasan dan lingkungan relijius yang membesarkannya, menjadi fondasi bagi Toto dalam memikul berbagai tugas penting yang ia emban.

Toto dewasa berubah menjadi pribadi yang tegas dan lugas. Hampir semua tugas kepemimpinan yang dipercayakan padanya wajib membawa unsur ‘leadership’ yang kuat dan berakhlak serta mengharuskannya memikul tanggung jawab yang besar. Toto sebagai seorang muslim, memegang amanah tersebut dengan sungguh-sungguh karena ia memegang teguh dan meyakini bahwa kepemimpinan itu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh sang khalik di hari akhir kelak.

Macan Organisasi Kampus

Kepeduliannya yang tinggi terhadap sesama dan kecerdasannya di bidang ilmu eksakta membawanya pada Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi, Jakarta. Namun kecintaannya terhadap organisasi sempat menyita jenjang pendidikannya di YARSI. Organisasi memberikan Toto sebuah kepuasan yang belum pernah ia temui sebelumnya yang menggenjot adrenalin dan insting kepemimpinan yang ia miliki. Ia tidak saja menjadikan organisasi sebagai hobi, namun juga ‘sekolah’ untuk karirnya di masa depan.

Berbagai organisasi ia geluti mulai dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Resimen Mahasiswa (Menwa), DPP KNPI, hingga menjadi salah satu pendiri organisasi Pencinta Alam YARSI. Keasyikannya berorganisasi membuat karir akademiknya di YARSI menjadi lebih panjang atau dikenal dengan istilah ‘mahasiswa abadi’. Toto menghabiskan tujuh tahun untuk mendapatkan gelar akademiknya sebagai dokter di universitas tersebut.

Namun dari seluruh peristiwa penting yang ia alami dalam berorganisasi, yang selalu membawa kesan mendalam bagi diriya adalah saat ia bergabung dengan organisasi aliansi berbagai kampus di Jabotabek yang dinamai Forum Kota (FORKOT) ketika menduduki gedung DPR untuk menjatuhkan rezim Orde Baru pada Mei 1998.

Bersambung…

Kisah dr. Toto Berikutnya: Mengencingi Gedung DPR dan Diciduk Aparat

235 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment