Opini 

Rezim Merah Vs Kaum Sarungan

Oleh: Hasbullah Ahmad Bahtiar (Pengamat Politik Islam)

Pilkada Kabupaten Kuningan bakal menjadi pertarungan hidup mati.  Terutama bagi petahana: Acep Purnama melawan Toto Taufikurohman Kosim. Meski ada tiga kontestan calon yang bertarung, tetapi realita di lapangan dua pasangan itu (AR melawan SenTOSA) yang akan bertarung sengit. Apalagi Acep yang diusung PDIP memikul beban berat dari petinggi partai Banteng,  bahwa jika tak menang,  kader Banteng bakal “disembelih”.  Entah apa maksudnya.

Yang pasti sikap seperti itu mencerminkan satu hal:  para petinggi kaum merah ini mulai ketakutan.  PDI Perjuangan dan sekutunya mulai menyadari siapa yang bakal dihadapinya di Pilkada 2018.

Namanya Toto Taufikurohman Kosim atau yang enak disapa dengan Dokter Toto.  Dari nama panggilannya, Urang Kuningan pasti paham karena blusukan sehatnya ke kampung-kampung. Namanya seolah membawa roh perubahan di Kuningan yang terlalu lama dikuasai keluarga dan kolega. Kegigihan dan idealisme dalam membangun Kuningan itulah yang bakal diteruskan  Dokter Toto, dokter idola jaman now ini.

Acep yang mewakili Rezim Merah bakal menghadapi Dokter  yang mewakili Kaum Sarungan.  Kuningan yang didengang-dengungkan sebagai Kandang Banteng akan diuji kembali keotentikannya dengan kekuatan Kaum Sarungan.

Benarkah Kuningan adalah Kandang Banteng atau  justru akan menjadi Rumahnya Kaum Sarungan?  Apakah orang Kuningan lebih nyaman tinggal di Kandang Banteng daripada tinggal di Rumah Kaum Sarungan? Apakah masyarakat pemilih lebih suka dipimpin oleh Kader Banteng atau Kader Kaum Sarungan. Waktulah yang akan membuktikan di bawah idealisme rakyat Kuningan itu sendiri.

Pertanyaan lebih detail apakah setiap urang Cilimus, urang Ciawigebang, urang Cibeureum, urang  Cibingbin, urang Cidahu, urang Cigandamekar, urang Cigugur, urang Cilebak, dan urang se-Kuningan Jawa Barat lebih senang dan nyaman hidup di bawah naungan Rezim Merah atau saatnya berkata tidak pada mereka.

Kaum Sarungan mewakili hampir seluruh rakyat kebanyakan di Kuningan.  Kaum Sarungan merupakan representasi seluruh nelayan, buruh, petani, petambak, peternak, pendidik, penyanyi,  pelipur lara, pengusaha kecil menengah,  perawat,  penyuluh,  santri,  guru ngaji, penggila bola,  pedagang,  pramusaji, pramulayan,  pegawai,  tukang ojeg, tukan nasi goreng, dan masih banyak lagi.

Kaum Sarungan identik dengan kaum nasionalis religius yang sangat cinta pada bangsa dan negaranya dan sangat mengabdikan diri dan hidupnya,  pada Tuhan, pada Gusti Allah Swt. Kaum Sarungan setiap saat menjaga bangsa dan negaranya dari  berbagai ancaman yang merontokkan moralitas bangsa.

Kini Kaum Sarungan Kuningan memiliki wakilnya dalam Pilkada 2018 yaitu Dokter Toto. Dokter yang begitu dekat dengan semua profesi. Dokter yang mengerti perasaan dan cita-cita rakyat Kuningan.  Orangnya sederhana dan apa adanya. Orangnya tegas dan  berintegritas. Orangnya merakyat tanpa sekat. Dokter Totolah yang bakal menjadi teman urang Kuningan menuju mimpi dan cita-citanya menuju kesejahteraan dan martabat.

Dokter Toto adalah sosok pekerja keras, memahami,  dan melayani,  ngemong, dan ngladeni urang Kuningan dalam membangun kejayaan Jawa Barat.  Ia menangis melihat Puskesmas tak terawat, ia sesunggukan melihat gedung madrasah roboh, ia meneteskan air mata melihat anak-anak kurang sehat.

Dokter Toto juga dikenal pemberani dan tanpa kompromi.  Ia lantang mengingatkan bahaya politik dinasti sebagaimana yang dikampanyekan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.  Ia lantang mengkritik pembangunan Kuningan yang tak merata. Ia gelisah masa depan anak-anak muda Kuningan tidak jelas. Masyarakat  yang tak tersentuh kesehatan, ia sentuh, ia penuhi, ia layani, ia sehatkan Kuningan hingga pelosok perbatasan Jawa Tengah. Toto adalah fenomena baru di Kuningan, dokter yang mau terjun ke sawah, nyemplung di kolam, dan berenang di Kali.  Inilah sosok yang bakal ngayomi urang Kuningan dalam membangun peradaban baru yang lebih baik di Jawa Barat.

Saatnya Rezim Merah berpikir lebih keras.  Sebab,  Kaum Sarungan tengah konsolidasi dan menyusun shaf-shaf, menyusun barisan di langgar-langgar,  di surau-surau,  di musholla dan masjid,  di pos-pos ronda,  di pojok-pojok pasar,  dan di rumah-rumah penduduk. Mereka terus bergerak menebar kebaikan mewujudkan kesejahteraan.

2,567 total views, 6 views today

Related posts

Leave a Comment