Profil 

“To, Kalau Gede Mau Jadi Apa?”

Kuningan (Detak Jabar) – Peran lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Dalam budaya masyarakat Indonesia pada umumnya, lingkungan punya andil besar dalam proses kehidupan anak-anak menjadi dewasa. Maka tak heran jika di suatu tempat, tetangga atau teman-teman kita sering menanyakan tentang cita-cita kepada anak yang lain. Mungkin hanya sebatas bertanya atau bercanda, namun sejatinya punya tujuan yang sangat baik bahwa seorang anak harus punya misi dan cita-cita sejak kecil.

Seperti halnya anak kecil di kampung-kampung, bila sedang bermain biasanya ditanya oleh orang tua tentang cita-cita masa depan. Tidak terkecuali Dr. Toto. Ia masih ingat saat duduk di bangku Sekolah Dasar di kampungnya Kuningan, ia pun ditanya orang. ”To, kalau sudah gede mau jadi apa? Saya jawab,”Mau jadi Bupati,” katanya mengenang masa lalu.

Kalimat ini selalu terngiang di telingan dr. Toto setiap saat. Apalagi ketika melihat kondisi Kuningan saat ini, gejolak mewujudan cita-cita itu langsung membara. Itulah perbincangan Radar Kuningan dengan dr. Toto Taufikuraohman Kosim di rumahnya beberapa waktu lalu.

Toto kecil kini telah menjadi dewasa. Dokter kelahiran Kuningan, 22 Mei 1969 itu kini telah menunjukkan jati dirinya bahwa dengan usaha yang keras, apapun yang menjadi keinginannya akan terwujud. Ia kini menjadi dokter yang cukup dikenal di Kuningan. Rumah Sakit pun ia dirikan. Kuningan Medical Center, namanya.

Pun demikian masih ada satu keinginan yang belum terlaksana bahwa ia ingin mengabdi untuk masyarakat Kuningan yang lebih luas lagi. Apalagi masyarakat luas memberikan dukungan yang tak terkira. Ia didesak untuk mencalonkan diri menjadi Bupati Kuningan periode 2018-2023 berpasangan dengan Yosa Octora Santono. Amanah ini pun ia terima dengan tulus. Apalagi ketika ia ingat jaman kecil bahwa ia bercata-cita ingin jadi bupati, maka ia pun harus membulatkan tekad. Cita-cita yang sedergana sebetulnya.

Mengapa hati dr. Toto membara saat melihat Kuningan hari ini? Ya, menurut pengamatannya Kuningan saat ini jauh tertinggal dibandingkan kabupaten lain di Provinsi Jawa Barat. “Saya amati sejak tahun 2002 sampai sekarang 2018, hampir kurang lebih 16 tahun hidup di Kuningan saya lihat perkembangan tak memiliki kemajuan yang berarti,” kata kader Himpunan Mahasiswa Islam itu.

Diakui memang ada perkembangan dari sisi infrastruktur, tetapi di sisi spiritual jauh ketinggalan bahkan terkesan diabaikan. “Di sektor infrastruktur memang ada perubahan cukup baik. Cuma ada suatu  ketimpangan, dimana mental  spiritual banyak sekali ditinggalkan,” paparnya.

Pemerintah daerah selama ini terlalu asyik dengan pembangunan infrastruktur. Itu pun belum  menjadi jalan keluar bagi Kuningan untuk memberikan fasilitas kepada unit-unit kerja yang bisa meningkatkan produktivitas pada Kota Kuningan itu sendiri. Intinya, kata dr. Toto, pembangunan Kuningan tidak mampu memberikan rangsangan kepada sektor lain demi kemajuan Kuningan secara umum. “Tak punya konsep yang jelas, bagaimana membangun Kuningan yang progresif dan revolusioner. Yang ada ya stagnan,” kata Pendiri Pecinta Alam Yarsi itu.

Apa yang ia rasakan tak hanya berasal dari pengamatan dia, namun berasal dari masukan dari seluruh rakyat Kuningan. “Saya banyak mendengar, banyak melihat, dan banyak mendapat bisikan bahwa Kuningan tidak bisa dibiarkan dalam kondisi seperti ini terus menerus,” katanya.

Sebagai muslim, kata dr. Toto, kita tidak boleh membiarkan kezaliman berlangsung di sekitar kita. “Kita harus melakukan perbaikan semampu kita. Niat yang baik, pasti akan diridhoi oleh Allah Subhanahu Wataala.”

Satu hal yang membuat dr. Toto prihatin adalah pembangunan Kuningan selama ini hanya berorientasi pada untung rugi. Pembangunan yang dialokasikan dari APBD hanya dijadikan bancakan oleh orang-orang dekat kekuasaan.

“Orang sih bilang buat bancakan, tetapi saya bilang tidak. Kalau cuma buat cari untung, iya,” katanya.

Itulah problem pembangunan Kuningan saat ini bahwa  anggaran yang seharusnya bisa dipakai untuk membangun secara merata, tetapi karena pengelolaannya kurang cermat yang terjadi justru ketidakadilan pembangunan. Apalagi jika para pemborong pembangunan hanya memikirkan untung rugi dan kejar tayang, maka kualitas pembangunan terabaikan.  “Pembangunan memang cepat, termasuk cepat rusak,” katanya.

Ke depan dr. Toto berharap, Kuningan tidak boleh dikelola dengan cara seperti itu lagi.  “Harus punya perencanaan yang matang, visioner, dan bermanfaat untuk seluruh rakyat,” pungkasnya  (wid)

 

 

143 total views, 1 views today

Related posts

Leave a Comment