Editorial Opini 

Antara Ahok, Sukma, dan Rendra

Sudah puluhan kali umat Islam dijadikan bahan olok-olok oleh umat lain, bahkan oleh umat sendiri. Tidak hanya umatnya, tetapi kitab sucinya, nabinya, kiblatnya, dan ritualnya selalu menjadi bahan ejekan yang amat empuk.

Tak hanya di Indonesia, hampir semua negara di dunia pernah melakukan pelecehan terhadap Islam. Pelecehan itu tak pernah berhenti sampai hari ini. Atas nama seni, fotografi, film, dan hak asasi manusia, Islam direndahkan sedemikian rupa.

Tersinggungkah umat Islam, jelas. Marahkah umat Islam, tidak. Itulah hebatnya ajaran Islam yang mengajarkan tetap menjadi pemaaf, meski telah disakiti. Islam tak akan rusak gara-gara Ahok, Sukma, dan Rendra.

Dalam beberapa tahun terakhir ada model yang berbeda dalam melecehkan Islam. Jika dahulu pelecehan terjadi karena  ketidaktahuan dan ketidaksengajaan, kini olok-olok dilakukan karena ada unsur kesengajaan. Jika dahulu pelecehan terhadap Islam disebabkan oleh salah memahami ajaran Islam, kini pelecehan dilakukan oleh umat lain yang tidak tahu sama sekali tentang ajaran Islam. Jika dahulu pelecehan dilakukan karena minimnya pengetahuan tentang Islam, kini pelecehan dilakukan karena kebenciannya terhadap Islam.

Ada tiga penghinaan terhadap Islam dalam waktu kurang dari satu tahun. Pertama kasus salah interpretasi Surat Al Maidah 51 oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kedua, kasus Puisi Indonesia oleh Sukmawati Sukarnoputri, anak proklamator. Ketiga kasus penghinaan begitu nista terhadap Nabi Muhammad oleh  kader partai, Rendra Hadi Kurniawan.

Ahok telah divonis dan dihukum 2 tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan penodaan agama atas pernyataan soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Ahok menyatakan, dalam setiap Pilkada umat Islam dibohongi Surat Al Maidah 51. Upaya peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung gagal total alias ditolak. Ahok tetap dipenjara selama dua tahun.

Belum genap seminggu atas penolakan PK Ahok, kaum pembenci kembali berulah. Kali ini datang dari tokoh nasional, yakni Sukmawati Soekarnoputri, putri proklamator Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia.

Sukmawati melampiaskan kebenciannya terhadap suara azan. Kebencian itu tercantum dalam puisi karyanya sendiri berjudul Ibu Indonesia dalam acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week, Kamis (29/3/2018).

Forum Umat Islam Bersatu mempermasalahkan terutama bagian yang menyebut kalau “Sari Konde sangat indah lebih cantik dari cadar dirimu” dan “Suara kidung Ibu Indonesia lebih merdu dari alunan Adzan”

Ikatan Advokat Muslim Indonesia meyakini puisi itu memenuhi unsur pidana mengacu pada pasal 28 ayat (2) junto Pasal 45A ayat (2) UU Nomor 18 Tahun 2016 tentang ITE dan pasal 156 KUHP.

Pengolok-olok Islam berikutnya adalah pemilik akun Facebook Rendra Hadi Kurniawan. Kader Partai Demokrat itu menghina Nabi Muhammad dengan begitu kasar dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial. Video itu sangat melukai hati umat Islam. Rendra kini sudah sudah dipecat oleh partai dan ditangkap polisi.

Ahok, Sukma, dan Rendra menangis tersedu-sedu, memohon maaf kepada umat Islam. Mereka menyesal. Begitulah, penyesalan selalu datang belakangan, jika di awal bukan penyesalan namanya, tetapi perencanaan.

Umat Islam yang dididik sejak bayi untuk menjadi pemaaf, tentu saja memaafkan. Tetapi proses hukum tetap harus berjalan. Umat Islam adalah salah satu umat yang taat hukum. Dengan proses hukum, umat Islam jadi tahu persis motif Ahok dalam melecehkan Islam.

Demikian juga Sukmawati, dia sudah konferensi pers menyatakan penyesalan dan meminta maaf. Tetapi umat Islam ingin tahu, apa motif Sukma menjadi sastrawan dadakan dan melecehkan azan. Umat Islam menduga ada kebencian yang sangat dalam di dada Ketua PNI Marhaen itu. Sebab, puisi itu bukan puisi dadakan yang dibaca dadakan pula. Sebuah puisi biasanya dibikin dengan perencanaan dan permenungan yang cukup lama. Apalagi, puisi itu akan dibacakan dalam sebuah hajatan besar, tentu direncanakan dengan sangat apik dengan tema dan bahasa pilihan.

Jika Sukma tidak suka terhadap suara azan, Sukma bisa menandai azan mana yang tidak ia sukai. Sukma bisa menegur suara tersebut atau mengajari bagaimana azan yang baik, bukan menggeneralisasi semua suara azan buruk.

Rendra Hadi Kurniawan adalah penghina Islam yang paling menjijikkan. Ia eskplorasi kebencian terhadap Nabi Muhammad begitu total hingga keluar kata-kata kotor yang fatal.

Rendra sudah ditangkap polisi di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Tak ada tanda-tanda Rendra sakit jiwa. Ia waras dan sadar. Ia harus dijebloskan ke penjara melebihi penista-penista sebelumnya.

Ahok, Sukma, dan Rendra adalah orang-orang yang sok tahu. Butuh kesabaran untuk menjadi tahu. Dan pengetahuan memang mahal harganya. (Editorial Detak Jabar)

363 total views, 20 views today

Related posts

Leave a Comment