Daerah Infrastruktur Politik 

Lama Tak Direspons Pemerintah, Warga Benda Berharap pada SenTOSA

Kuningan (Detak Jabar) – Pemerintah tampaknya terlalu kikir untuk membantu masyarakat. Pembangunan yang dilakukan selaku dihitung dengan rumus untung-rugi.

Ratusan petani Desa Benda Kecamatan Luragung pagi tadi, Minggu (13/4) bergotong royong membendung sungai Cisanggarung dengan membangun bronjong secara tradisional.

Dibendungnya aliran sungai ini dilakukan sebagai antisipasi menghadapi musim kemarau yang diprediksi akan segera tiba.

Menurut Maman yang merupakan satu dari ratusan petani yang ada, kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak lama. Pasalnya setiap memasuki musim kemarau, debit air untuk mengaliri lahan persawahan yang ada menjadi turun seperti halnya saat ini.

“Kegiatan ini sudah sejak lama berlangsung, terlebih ketika debit air untuk mengaliri sawah menurun seperti saat ini,” kata Maman kepada Detak Jabar.

Dijelaskan Maman, bahwa luas areal persawahan yang dialiri dari sungai Cisanggarung ini seluas 130 hektar. Ketika debit air menurun, sebagian besar lahan persawahan tidak bisa terairi secara maksimal sehingga sungai harus dibendung agar mencapai ketinggian normal.

“Luas 130 hektar lahan persawahan tidak terairi secara maksimal saat musim kemarau seperti ini, sehingga kami harus membendung sungai untuk mempertahankan ketinggian air agar bisa mengairi sawah,” jelasnya.

Diungkapkan oleh Maman, sebenarnya sudah sejak lama dirinya bersama ratusan petani mencoba untuk mengajukan pembuatan bendungan permanen kepada pemerintah. Namun jawaban Pemda sungguh mengecewakan bahwa anggaran yang terlalu besar untuk membangun bendungan permanen itu apakah akan mendatangkan keuntungan buat pemerintah.

Di samping itu ada sedikit jawaban dari pemerintah yang di luar dugaan masyarakat bahwa jumlah anggaran yang dikeluarkan untuk membangun bendungan tidak sebanding dengan hasil dari lahan yang diairi.

“Sejak lama kami mengajukan untuk pembuatan bendungan permanen kepada pemerintah, namun anggaran yang terlalu besarlah yang jadi kendalanya karena dirasa tidak sebanding dengan hasil dari lahan yang diairi,” ungkapnya.

Padahal menurut Maman masalah hasil dari lahan yang diari itu tidak sebanding jika hanya dalam jangka pendek, namun jika untuk jangka panjang tentunya akan sebanding. Pemerintah tidak berpikir panjang, hanya berpikir untung rugi.

Dirinya berharap di momen Pilkada ini ada pemimpin baru yang bisa merealisasikan keinginan ratusan petani yang ada di desanya itu.

Dirinya yakin bahwa desanya bisa menjadi salah satu daerah penghasil beras yang kontinyu jika masalah pengairan ini dapat diselesaikan.

“Saya yakin jika masalah pengairan ini bisa terselesaikan, desa saya ini bisa menjadi salah satu penghasil beras terbesar di Kuningan, dan saya berharap dalam momen pilkada ini ada pemimpin baru yang bisa merealisasikannya. Pemimpin itu adalah dokter Toto,” pungkasnya.

Sembari membentangkan spanduk #2018Ganti Bupati, Maman beserta beberapa petani yang lain bersama-sama meneriakkan “Saya SenTOSA”. (roy)

528 total views, 11 views today

Related posts

Leave a Comment