Editorial Opini 

Mental Teroris Sang Loyalis

(Detak Jabar) – Teroris tak hanya mereka yang bawa bom untuk mematikan dirinya sendiri dan orang lain. Teroris telah berkembang lebih luas, bahwa segala yang menimbulkan ketakutan bisa disebut teroris. Bahkan, ujaran yang bernada mengancam dan melecehkan juga disebut teroris. Di media sosial kini bertebaran teroris. Teroris medsos telah berkembang pesat. Apalagi bersamaan dengan Pilkada serempak, teroris medsos tumbuh subur bagai jamur di musim hujan.

Perilaku teroris juga banyak dipertontonkan oleh para loyalis sang calon. Loyalis ini bisa dari relawan, partai politik, keluarga calon atau pendukung dan kroni calon. Baik calon presiden, calon gubernur, atau calon bupati. Mereka meneror siapa saja yang tidak sesuai dengan pilihannya.

Teror-teror yang dilakukan bisa berupa perusakan alat peraga kampanye, menakut nakuti pegawai Pemda, mengiming-imingi tenaga honorer, menjanjikan pergi umroh, menjanjikan aspal jalan, dan banyak sekali cara untuk mengelabuhi pemilih agar tunduk dan patuh pada calon pemimpin mereka. Teror dan angin surga ini biasanya diciptakan oleh calon petahana, kroninya, dan para loyalisnya.

Teror paling murah meriah adalah teror perusakan alat peraga kampanye. Perilaku setan ini biasanya dilakukan secara sembunyi sembunyi. Dari sini saja sudah terlihat jelas jiwa pengecutnya. Para pengecut seakan ingin mengumumkan kepada publik bahwa mereka paling ahli dalam hal menciptakan kekerasan dan ketakutan. Mereka ingin menciptakan pesan bahwa jangan coba-coba dengan kenekatan mereka. Inilah teror yang sesungguhnya, bahwa rakyat memilih bukan karena program yang baik, tetapi memilih karena diselimuti ketakutan.

Ada pula teror dalam bentuk lain. Teror halus berupa janji kenaikan gaji, pangkat, golongan, dan status. Teror macam ini biasanya dilakukan sendiri oleh calon petahana. Mereka dikumpulkan dalam satu ruangan, lalu “dihipnotis” dengan janji yang tak pernah dipenuhi. Demikian juga angin surga berupa pengaspalan jalan, pinjaman dana, pembangunan jembatan, majelis taklim, pesantren, bantuan hukum, perbaikan pasar rakyat, perbaikan irigasi dan lainnya dilakukan secara masif oleh petahana. Bahkan, ajakan umroh pun dijanjikan untuk mengeruk suara demi mempertahankan kekuasaannya. Pertanyaannya sekarang,”Selama menjabat ke mana saja?”

Akhirnya semua kembali kepada jari Anda di 27 Juni 2018. Hari ini mungkin Anda rajin mendatangi majelis taklim, mendengarkan khotbah indahnya umroh, menyimak bantuan permodalan usaha, dan lezatnya menjadi karyawan Pemda, serta impian indah lainnya. Tetapi Anda pasti punya penilaian sendiri mana yang janji palsu dan mana yang bisa dilaksanakan, semua bisa diukur.

Anda juga pasti bisa menilai calon pemimpin seperti apa yang layak didukung dan dipilih. Apakah pemimpin yang disokong relawan-relawan bengis dan beringas atau calon pemimpin yang datang dari dukungan rakyat yang selama ini terpinggirkan. Jangan sampai jatuh ke lubang yang sama. (Editorial Detak Jabar)

359 total views, 13 views today

Related posts

Leave a Comment