Hukum Politik 

Dua Isu Ini Membuat Pendukung Ade-Iwan Rontok

Bogor (Detak Jabar) – Pemilihan Bupati Bogor 2018 tinggal 18 hari lagi. Banyak kejadian yang dialami oleh para pasangan calon bupati dan wakil bupati termasuk pendukung dan para relawannya.

Yang lebih mengagetkan adalah relawan dan pendukung pasangan Ade Yasin-Iwan Setiawan. Pasangan dengan nomor urut 2 ini mengalami kejadian luar biasa, di mana para relawannya saling berguguran. Ada dua hal yang menjadi penyebab dukungan terhadap pasangan ini rontok.

Pertama, pemberitaan massif oleh media massa dan media sosial tentang dugaan penyerobotan tanah di kawasan Jonggol oleh keluarga Yasin. Kedua, penolakan penggunaan kata Hadist untuk menyebut ikon Ade Yasin-Iwan Setiawan yang dianggap melecehkan Islam.

Dalam kasus penyerobotan tanah, perkara ini sudah dilaporkan ke KPK yang melibatkan petani korban dan mahasiswa. Kasus ini juga menyeret nama Ade Yasin (calon bupati Bogor) dan Zainul Muttaqin (calon wakil wali kota Bogor). Keduanya adalah adik kandung Rahmat Yasin, terpidana korupsi yang saat ini masih mendekam di LP Sukamiskin, Bandung.

Kasus dugaan jual beli tanah yang diotaki mantan bupati Bogor Rahmat Yasin ini mencuat setelah warga pemilik lahan melakukan aksi pemasangan plang di tanah mereka, pada Selasa 1 Mei 2018. Aksi ini untuk menegaskan bahwa mereka adalah pemilik sah atas puluhan ribu hektare tanah adat sejak tahun 1980-an dan tak pernah diperjualbelikan.

Aksi ini dipicu dengan turunnya surat dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan nomor: S-662/WKN.07/KNL.02/2018 tanggal 3 April 2018 yang ditujukan kepada Kepala Desa Singasari dan Cibodas Kecamatan Jonggol perihal penelusuran aset/barang jaminan obligor PKPS PT Bank Putra Surya Perkasa (BBKU) a.n. Trijono Gondokusumo.

Dalam surat yang ditandatangani Kurnia Ratna Cahyanti tersebut, DJKN menjelaskan bahwa sesuai perjanjian penyelesaian kewajiban obligor Group PSP yang terkait kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pada tahun 2000 telah menyerahkan aset berupa bidang-bidang tanah girik total luas 245,7 hektare di Desa Singasari dan Cibodas, Jonggol. Karena belum menyelesaikan kewajibannya, barang jaminan tersebut akan disita yang hasil penjualan dan/atau pelelangannya untuk mengurangi kewajiban obligor dimaksud kepada negara.

“Kami khawatir nanti tanah kami ikut digusur, dipatok, dan sebagainya, maka kami siap melakukan pagar betis. Karena sejak tahun 2013 juga banyak yang mengaku-aku tanah kami di sini. Bahkan hasil pengecekan warga ke Pemerintah Desa maupun ke BPN tanah-tanah kami ini sudah atas nama orang lain. Padahal, kami punya bukti surat-surat kepemilikan tanah berupa girik dan tak pernah menjual tanah kami,” ungkap Dace, pemilik tanah ahli waris H. Sodikin.

Kasus memprihatinkan ini mendapat perhatian banyak pihak. Ketua Taruna Tani Indonesia Bogor, Fahrur Roza mendorong agar segera diproses secara hukum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurutnya, proses hukum harus tegak tanpa melihat status dari oknum si perampas tanah masyarakat tersebut.

Demikian juga LSM Gerakan Masyarakat Pemburu Koruptor (Gempur) mendesak KPK untuk turun tangan langsung menangani kasus yang menimpa masyarakat Kabupaten Bogor. “KPK harus menelisik dugaan adanya tindak pidana korupsi, menyangkut kerugian negara,” ujar Ketua Umum Gempur Saprudin Roy.

Tak hanya LSM, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Djuanda (Unida) menggelar demonstrasi di kantor KPK. Selain mendesak KPK untuk segera mengusut tuntas dugaan kasus korupsi tersebut, para mahasiswa ini pun menyerahkan berkas-berkas berupa bukti korupsi penggelapan aset negara berupa tanah seluas 100 hektar, dan 13 hektar tanah masyarakat Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, yang digelapkan oleh oknum-oknum pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dengan total kerugian negara sebesar Rp565 miliar.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi Arifin mengatakan, KPK harus segera mengusut dugaan kasus korupsi yang melibatkan pejabat di Bogor yang terdiri dari Rachmat Yasin (Mantan Bupati Bogor), Ade Yasin (Mantan Wakil Ketua DPRD Kab. Bogor), Zainul Mutaqin (mantan anggota DPRD Kota Bogor), Burhanuddin (Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Bogor), Lesmana (Ketua Baznas Kabupaten Bogor), Rudi Ferdian (Ketua Kadin), Wawan M Sidik (Kadis Kominfo Kabupaten Bogor/mantan Camat Jonggol), Asep Aer (Camat Jasinga/mantan Camat Jonggol), dan banyak lagi.

Sementara kasus kedua yang membuat pendukung Ade-Iwan berguguran adalah penggunaan kata Hadist untuk menyebut ikon Ade Yasin-Iwan Setiawan yang dinilai tidak patut.  Abdul Halim, seorang ustad dari Jakarta menyebut penggunaan kata Hadist untuk keperluan kampanye Pilkada sama saja dengan membodohi umat Islam. “Mengapa harus menggunakan kata Hadist, itu kan untuk mengkamuflase kata Hadits, biar seolah-olah islami,” kritiknya.

Lebih jauh Halim menyebut, Ade – Iwan telah melakukan pelecehan terhadap Islam. Hadist adalah  perkataan, perbuatan, ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad yang dijadikan landasan syariat Islam, bukan sabda pasangan calon Pilkada.

“Sebagai umat Islam saya tersinggung kata Hadist dipakai buat Pilkada,” katanya. Kampanye yang baik, kata Halim tidak harus mengeksploitasi istilah agama untuk kepentingan politik sesaat.

Akibat penggunaan kata kontroversial ini pendukung Hadist dari Cibinong berinisial HS keluar dari grup WA. Mulanya ia mempertanyakan penggunaan kata ini yang menurutnya tak patut, tetapi justru dicurigai sebagai penyusup dan akhirnya left. Hengkangnya pendukung Hadist juga terjadi di grup WA Kecamatan Kemang berinisial KT. Ia memutuskan left dari grup setelah tak cocok dengan pendukung lainnya.

“Saya sudah keluar dan sekarang anteng serta tidak menginjakkan kaki di mana-mana. Tidak ada yang sepaham dan sejalan dengan pemikiran saya. Lisan dan perbuatan bertolak belakang dengan kenyataan. Realisasinya nol besar,” demikian tulisnya.

Grup WA Hadist di 40 kecamatan memang dibuat open. Artinya siapapun bisa masuk ke komunitas itu. Wajar jika kemudian segala gerak-gerik anggota grup terpantau publik. Sejak kasus dugaan penyerobotan tanah diberitakan, banyak anggota grup yang keluar. Bahkan, aktivitas menjadi sepi. Grup WA Hadist Bojonggede, misalnya dalam beberapa minggu ini tidak ada diskusi. Paling-paling hanya postingan yang tak ada hubungannya dengan visi misi Ade-Iwan.  Hari ini hanya ada 2 postingan, yakni poster Sholat Tahajjud dan poster Sholat Subuh.

Demikian juga Grup WA Hadist Cibinong. Hari ini ada 8 postingan, yakni poster Sholat Tahajjud, poster Sholat Subuh, video sahur, link berita bazar Ramadhan, dan tiga orang tanda jempol, serta gambar potongan Surat Yasin. Tak ada diskusi, tak ada kabar kegiatan pasangan calon. Mungkin ini membosankan, sehingga banyak anggota grup yang pergi tanpa pesan. Semua berguguran seperti dedaunan di musim kemarau. (roy)

4,326 total views, 26 views today

Related posts

Leave a Comment