Kuningan – Dua hari menjelang Bulan Suci Ramadhan, keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Langlang Buana Ngahuleng kian menyusut. Dari sebelumnya puluhan gerobak yang memenuhi area tersebut, kini hanya tersisa tujuh pedagang yang masih bertahan dan tetap membuka lapak.
Ketujuh PKL itu memilih tetap berjualan di lokasi resmi karena berkomitmen mematuhi aturan penataan yang telah ditetapkan. Sementara sebagian pedagang lainnya diketahui kembali berjualan di trotoar dan bahu jalan, terutama di Jalan Otista yang dianggap lebih ramai pembeli.
Salah satu pedagang yang masih bertahan mengungkapkan, pada awal kebijakan penataan diterapkan, seluruh PKL sempat merasakan peningkatan omzet. Namun kondisi tersebut hanya berlangsung sekitar lima bulan. Setelah banyak gerobak tutup, jumlah pengunjung pun perlahan menurun.
Ia mencontohkan, pernah ada rombongan mobil odong-odong yang berhenti untuk jajan. Namun karena melihat banyak gerobak yang tutup, rombongan tersebut akhirnya memilih pergi tanpa membeli.
“Dikira tidak ada yang buka, padahal kami masih ada tujuh orang,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, kawasan tersebut juga sempat ramai ketika ada kegiatan tertentu atau pemberian stimulan. Akan tetapi, suasana ramai itu tidak bertahan lama dan kembali sepi setelah kegiatan usai.
Menjelang Ramadhan, para PKL yang masih bertahan berharap ada ketegasan dan keadilan dalam penertiban pedagang yang berjualan di trotoar. Mereka menilai lemahnya penegakan aturan justru merugikan pedagang yang patuh serta membuat kawasan resmi semakin ditinggalkan.
“Kami hanya ingin aturan ditegakkan sama rata. Kalau semua tertib, Langlang Buana bisa hidup lagi,” harap pedagang tersebut.
Dengan hanya menyisakan tujuh PKL yang bertahan, kondisi ini menjadi perhatian penting bagi para pemangku kebijakan untuk mengevaluasi kembali sistem penataan PKL. Harapannya, roda ekonomi pedagang kecil tetap berjalan tanpa mengabaikan ketertiban dan kenyamanan kota.***












