Bogor – IPB University dan mitra internasional dari Prancis resmi meluncurkan FortRiz, inovasi beras fortifikasi yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal (LRI-PGKH); SEAFAST Center IPB University; French National Research Institute for Sustainable Development (IRD); Savica; serta World Food Programme (WFP). Program ini menjadi langkah konkret penguatan kerja sama bilateral dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Wakil Rektor IPB University bidang Konektivitas Global, Kerjasama, dan Alumni, Prof Iskandar Z Siregar, menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut menjadi terobosan penting yang menghubungkan sains dengan kebijakan publik.
“Kerja sama pemerintah Prancis dan Indonesia melalui IPB University, khususnya di bawah LRI-PGKH merupakan inisiatif yang sangat baik. Program ini dapat mengisi berbagai kesenjangan pengetahuan nutrisi yang dihubungkan dengan program MBG,” ujarnya pada Launch Event and Kick-Off Meeting FortRiz di International Convention Center (IICC) Bogor, (12/2/2026).
Ia menegaskan bahwa keberhasilan MBG membutuhkan dukungan lintas negara dan sektor.
“Program MBG perlu dukungan internal maupun eksternal agar berjalan sukses. Ini bagian dari kontribusi bersama mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
FortRiz dikembangkan sebagai beras fortifikasi yang diperkaya vitamin dan mineral untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah. Saat ini lebih dari 20 persen anak Indonesia masih mengalami kekurangan mikronutrien. Tahap awal program meliputi uji implementasi di empat wilayah dengan sekitar 2.400 siswa sebagai penerima manfaat.
Teknologi fortified rice kernel (FRK) memungkinkan penambahan gizi tanpa mengubah pola konsumsi masyarakat dan tetap dengan biaya terjangkau. FortRiz juga melalui uji mutu, uji rasa, dan studi penerimaan untuk memastikan produk aman, efektif, dan diterima secara budaya.
Kepala LRI-PGKH IPB University, Prof Erika B Laconi, menilai FortRiz berperan penting dalam memperkuat riset pangan dan kesehatan nasional.
“Inovasi tidak hanya untuk ibu dan bayi, tetapi juga remaja sebagai calon orang tua. Peningkatan gizi harus dimulai sejak dini dan penting dalam perspektif kesetaraan gender,” jelasnya.
Dari pihak Prancis, Konselor Kerja Sama Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Mr Jules Irman, menyoroti pentingnya pemenuhan gizi bagi kelompok rentan.
“Ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah lima tahun rentan defisiensi mikronutrien. Fortifikasi beras adalah langkah penting, dan MBG dapat menjadi platform strategis untuk integrasinya,” ujarnya.
Selain meningkatkan gizi, FortRiz juga memiliki dampak sosial ekonomi. Program ini memberikan pelatihan bagi tenaga dapur sekolah yang sebagian besar perempuan yakni terkait keamanan pangan dan praktik fortifikasi. Secara nasional, program ini berpotensi mendukung puluhan ribu tenaga dapur dan memberi manfaat bagi jutaan keluarga.
Sebagai bagian dari Tahun Inovasi Indonesia-Prancis 2026 dan 50 tahun kehadiran IRD di Indonesia, FortRiz menjadi simbol nyata kemitraan riset yang berkontribusi langsung pada kebijakan publik. Program ini turut mendapat dukungan Kementerian Eropa dan Urusan Luar Negeri Prancis serta Kedutaan Besar Prancis di Jakarta.***







