banner 728x250

Perang Timur Tengah Ancam Industri RI, Menperin Wanti-Wanti Lonjakan Biaya Produksi

Menperin Agus Gumiwang. (Foto: dok. antara)
banner 468x60

Jakarta, DetakJabar.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengingatkan bahwa konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi kinerja industri manufaktur Indonesia. Situasi geopolitik yang memanas dinilai dapat memicu perubahan pada lanskap perdagangan global dan memengaruhi stabilitas rantai pasok industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, eskalasi konflik di kawasan tersebut dapat memicu volatilitas harga energi dunia, mengganggu jalur perdagangan internasional, serta meningkatkan biaya logistik dan bahan baku industri.

Example 300x600

“Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur,” ujar Agus.

Menurutnya, apabila konflik terus memanas, sektor industri dalam negeri berisiko terdampak, terutama akibat gangguan pada pasokan dan distribusi energi global.

Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz di Timur Tengah, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jika jalur tersebut terganggu akibat konflik, harga energi internasional berpotensi melonjak.

Kenaikan harga energi tersebut akan berdampak langsung pada berbagai sektor industri yang bergantung pada energi sebagai komponen utama biaya produksi. Industri seperti petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, hingga berbagai subsektor industri pengolahan dinilai sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

“Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu yang panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini tentu dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor,” kata Agus.

Selain energi, dinamika geopolitik juga berpotensi memengaruhi kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia karena adanya perubahan permintaan pasar internasional. Di sisi lain, impor bahan baku industri juga diperkirakan bisa mengalami hambatan.

“Perkembangan situasi geopolitik global tentu perlu kita antisipasi bersama. Kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia selama ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Agus, tengah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan sektor industri nasional. Beberapa strategi yang disiapkan antara lain memperkuat struktur industri hulu, meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri, serta memperluas diversifikasi pasar ekspor.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan efisiensi energi di sektor industri sekaligus mempercepat transformasi menuju industri hijau guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Meski menghadapi tantangan global, Agus tetap optimistis sektor manufaktur Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat. Hal ini didukung oleh struktur industri yang semakin beragam serta kontribusi sektor manufaktur yang masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional.***

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *